Ada sebuah hadits yang menyebut bahwa
berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah 60 tahun. Berpikir dalam hal ini
mengarah ke tafakur.
Hadits tersebut berbunyi,
|
فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ
عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً |
Artinya: "Berpikir sejenak lebih baik
daripada ibadah selama 60 tahun." Redaksi lain berbunyi, "Tafakur
sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun."
Tafakur memiliki lima jenis utama menurut
mayoritas ulama. Pertama, tafakur mengenai ayat-ayat Allah SWT yang
menghasilkan tauhid dan keyakinan kepada-Nya. Kedua, tafakur mengenai
nikmat-nikmat Allah SWT yang menghasilkan rasa cinta dan syukur kepada-Nya.
Ketiga, tafakur mengenai janji-janji Allah SWT yang menghasilkan cinta kepada
kebahagiaan akhirat. Keempat, tafakur mengenai ancaman-ancaman Allah SWT yang
menghasilkan kewaspadaan dalam menjauhi dosa dan pengagungan kepada-Nya.
Terakhir, tafakur mengenai sejauh mana kita mentaati Allah SWT dan
nikmat-nikmat yang diberikan-Nya kepada kita, yang menghasilkan rasa takut
kepada-Nya.
Ali bin Abi Thalib juga pernah menyatakan
bahwa tidak ada ibadah yang nilainya setara dengan tafakur, dan para ahli
spiritual menyebut tafakur sebagai pelita bagi hati. Tanpa tafakur, pelita ini
tidak akan bersinar di kehidupan seorang hamba.
Dalam Mukhtashar Ihya 'Ulumuddin karya Imam
al-Ghazali, keutamaan tafakur disebutkan Allah SWT dalam ayat yang memuji,
"Mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (QS
Ali Imran: 191)
Imam al-Ghazali juga meriwayatkan sebuah
kisah tentang dorongan untuk melakukan tafakur. Suatu hari, Nabi Muhammad SAW
bertemu dengan sekelompok orang yang sedang dalam keadaan tafakur. Beliau
bertanya kepada mereka, "Apa yang sedang kamu lakukan sehingga kamu tidak
berbicara?" Mereka menjawab, "Kami sedang memikirkan penciptaan Allah
SWT." Nabi SAW kemudian menyatakan, "Lakukanlah itu, namun jangan
sampai kamu memikirkan-Nya. Di barat ada bumi yang cahayanya terang selama
perjalanan matahari selama empat puluh hari. Di dalamnya ada makhluk dari
makhluk-makhluk Allah yang tidak pernah mendurhakai-Nya sedetik pun."
Mereka bertanya, "Bagaimana dengan setan terhadap mereka?" Beliau
menjawab, "Mereka tidak tahu apakah setan diciptakan atau tidak."
Mereka bertanya lagi, "Bagaimana dengan anak Adam?" Beliau menjawab,
"Mereka tidak tahu apakah Adam diciptakan atau tidak."
Namun, hadits yang menyatakan bahwa tafakur
sesaat lebih baik dari ibadah selama 60 tahun adalah hadits yang lemah (dhaif),
seperti yang dijelaskan dalam buku "150 Hadits Dha'if yang Sering
Dijadikan Dalil" oleh Abdul Bakir.
Wallahu A’lamu Bish Showab
